Menjelajah Lombok dan Sumbawa dalam 9 Hari - Part 3

Mister Guru (Prastowo Ismanto)

Di jalur Sumbawa–Dompu, ketahanan mental kami mulai benar-benar diuji. Entah di titik mana tepatnya, saat si Rebel melaju di kecepatan 90–100 kpj, tiba-tiba seekor anjing berlari menyeberang dari sisi kanan jalan. Spontan saya mengerem habis, namun tabrakan tak terhindarkan. Si anjing terguling di jalan, terlindas roda si Rebel. Dasar anjing… menyeberang tanpa tengok kiri-kanan! 😅 Alhamdulillah, si Rebel masih bisa dikendalikan dengan baik, dan kami pun selamat dari potensi kecelakaan yang bisa saja berakibat fatal.

Meski begitu, kejadian itu sempat mengguncang semangat kami. Bayangan akan firasat buruk mulai melintas di benak. Ditambah kurang tidur malam sebelumnya, terik aspal Sumbawa membuat rasa kantuk menyerang hebat. Beberapa kali saya harus menepi, meluruskan badan, dan mengusir kantuk dengan sebatang rokok.

Belum lagi “Ibu Negara” yang mulai lapar, ditambah panasnya jok motor setelah berjam-jam di atas sadel. Tercatat kami berhenti 3–4 kali sebelum akhirnya tiba di Dompu. Terus terang, rasa bimbang sempat muncul—apakah sebaiknya perjalanan dilanjut atau berhenti dulu? Tapi tekad untuk tidak menyerah membuat kami terus melaju.

Menjelajah Lombok dan Sumbawa

Menjelang sore, kami akhirnya tiba di Dompu. Tanpa banyak rehat, perjalanan langsung kami lanjutkan menuju Bima. Mendung yang menggantung di langit perlahan berubah menjadi hujan ketika kami memasuki daerah Sila. Kami menepi di sebuah SPBU untuk berteduh sekaligus menunaikan salat Zuhur dan Asar di mushala pom tersebut. Sekitar satu jam kemudian, masih di bawah hujan deras, kami kembali melaju dan tiba di Bima tanpa kendala berarti.

Demi keamanan dan keselamatan, kami memutuskan bermalam di Bima, lalu melanjutkan perjalanan ke titik 0 km Sape keesokan paginya. Malam itu kami berkesempatan bertemu dengan keluarga besar bikers Bima—di antaranya Bro Dimas (JUMOC / Jupiter Motor Club), Juni (Byson Riders Club), Arul, Radit, dan Wahyu (CMC / Ceper Motor Community), serta Yayat dari HSFCI (Honda Streetfire Club Indonesia).

Wah… mereka luar biasa ramah, Dulur! Atas kebaikan mereka pula, kami dipersilakan menginap di basecamp HSFC Bima malam itu. Rencana menginap di penginapan dekat terminal pun kami batalkan dengan senang hati.

Menuju Titik 0 Km Sape

Senin, 28 Desember 2015, sekitar pukul 07.00 pagi, kami berangkat menuju 0 km Sape. Jalur Bima–Sape ternyata benar-benar surganya para pencinta motor. Jalan mulus berlapis hotmix, berkelok-kelok di tepi jurang dan perbukitan, menawarkan sensasi menegangkan bagi pemburu adrenalin.

Rute ini lengkap: dari tikungan tajam hingga hairpin turn curam yang menanti di ujung turunan. Riders yang belum mengenal medan sebaiknya tetap waspada terhadap tikungan buta—karena di baliknya bisa saja mengintai jurang yang menganga.

Alhamdulillah, kami tiba di Sape tanpa kendala. Setelah berfoto di pelabuhan penyeberangan, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Lariti, pantai yang direkomendasikan dulur-dulur bikers Bima karena keindahannya.

Perjalanan menuju pantai itu tidak mudah. Kami sempat tersesat sekitar 5 km menyusuri tepian pantai sebelum akhirnya menemukan lokasi yang dimaksud. Pantai Lariti memang belum begitu populer; bahkan beberapa warga sekitar masih asing dengan namanya. Aksesnya pun menantang: jalan makadam berbatu, berlumpur, dan tergenang di beberapa titik.

Si Rebel sempat tergelincir dan “rebahan” di pasir pantai yang empuk — mungkin sebagai tanda suka cita karena telah mencapai tujuan terakhir hari itu. 😄 Alhamdulillah, ujung timur Pulau Sumbawa akhirnya berhasil kami tempuh dengan selamat dan penuh cerita.

Kantor Bupati Sumbawa Besar, 27 Des 2015, 09:21:09 AM
Rehat di jalur Sumbawa–Dompu
Rehat sejenak di jalur panjang dan panas Sumbawa–Dompu, 27 Des 2015, 12:48:49PM
Tiba di Pantai Lariti
Pantai Lariti dari kejauhan — belum populer tapi memesona.
Bersama para bikers Bima
Bersama Bro Dimas (JUMOC) dan Juni (BRC) di basecamp HSFCI Bima
Pose di ikon BIMA BERTEMAN
Pose di ikon “BIMA BERTEMAN”, simbol keramahan kota Bima menyambut para petualang
Pose di ikon BIMA BERTEMAN
Bersama para bikers Bima di ikon “BIMA BERTEMAN”, simbol persaudaraan sejati
Tags

Don't Miss Out! Stay Updated

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default
Share to other apps
Copy Post Link